Jumat malam. Seharusnya masih berada di kampus bersiap ke Ujung Genteng, tetapi malah duduk tertunduk di depan meja kosong di samping tangga. Berkejaran waktu kembali dari bandara sehabis menemui seorang teman dan mengerjakan segala tugas demi akhir pekan yang lebih baik. Sampai pada progress tugas selesai 90% dan menekan tombol ctrl dan s pada keyboard, seketika laptop crash. Powerpoint not responding, Word ga bisa dibuka, Chrome unresponsive, kursor pun ga jalan. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan.

Kalau mau ikutan marathon lagi, kamu mesti ngehindarin konsumsi coklat, keju, kacang-kacangan, susu, seafood, telur, pokoknya makanan berprotein, yaa setidaknya sampai enam bulan ke depan.
Dokter
Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan.

So, here’s the thing……

I’m sick. He’s getting married. My grades are failing. My applications got rejected. My business is getting nowhere. My friends are disappearing. My plans are ruined.
I have no contingency plan, I’ve never had. I have no more eagerness toward life. I am clueless. I am hopeless.

If the cancer doesn’t kill me, my mind will.

Memetik gitar dan bernyanyi
Pada waktu tak bertepi
Di atas langit di bawah tanah
Dihembus angin terseret arus

Untuk saudara tercinta
Untuk jiwa yang terluka

Dengar lagu suaraku hilang
Sebab hari semakin bising
Hanya bunyi peluru di udara
Gantikan deting gitarku
Mengoyak paksa nurani
Jauhkan jarak pandangku

Bibirku bergerak tetap nyanyikan cinta
Walau aku tau tak terdengar
Jariku menari tetap takkan berhenti
Sampai wajah tak murung lagi

Amarah sempat dalam dada
Namun akalku menerka
Kubernyanyi di matahari
Kupetik gitar di rembulan

Dibalik bening mata air
Tak pernah ada air mata


© Iwan Fals

Aku tahu kenapa Tuhan menciptakan rasa iri, yaitu untuk bisa meyakinkan kepada orang - orang yang belum pernah merasakan hal - hal yang diinginkannya untuk terus berusaha tanpa kenal rasa lelah. Tak peduli berapa banyak kekurangan yang kumiliki, tak peduli sesempit apa waktu yang kujalani, atau mungkin tak peduli sekeras apa jalan hidup yang akan kulalui. Tinggal bagaimana kita mengolah rasa iri tersebut untuk menjadi bahan bakar semangat demi menggapai suatu impian yang sudah kita targetkan.
Rury Nur Utomo

Don’t ever pretend that you care. What you did is just leaving a misleading trail. A trail that ends nowhere. The stake is high, hoping that you’re not pretending. But yes, you are.


To a dear friend who’s soon going to be a psychologist, please don’t let your patients know that you’re pretending. It hurts.